Short Jogja (Business) Trip



My memory of Jogja are blurry, I went there 20 years ago and I'm sure a lot has changed. What I remembered of Jogja are only the Borobudur Temple and the sidewalk small restaurant usually called Angkringan. I can't even remember in which hotel I stayed 20 years ago.

So when I was sent for a business trip, I was so ecstatic. I didn't browse in details what are the tourist destinations, I was only relying on my friend's recommendation and several of their posts on local places and delicacies.








The trip was only two days, the first day was spent doing meeting and the next half day was spent exploring. I stayed at Hotel Royal Ambarrukmo, Jogja. If you google the hotel's name, a lot of scary ghost stories were related to the hotel. Hahaha but Thankfully I didn't experience any during my stayed there. The hotel was 4 stars, the room is spacious and nice. The food is also nice. It also have a big swimming pool and a kid's playground. Although I didn't spot any kids club.

Bali, we’re in LOVE


Last month we had a chance to visit Bali as a family. It was actually a business trip but I extend it into our short Bali vacation. We’ve been wanting to visit Bali since last year, but the airplane ticket was never on sale, so we keep on postponing. Ever since I heard that I will have a chance to visit Bali for business trip, then I inform Chandra and said “Let’s do this, let’s go to Bali”. Although we didn’t have designated budget for the trip hahaha (bad financial habit!).









What has changed?



Setahun yang lalu memutuskan untuk berjilbab setelah pulang umrah. Beberapa waktu lalu, ditanya temen "Jadi apa yg udah berubah dari diri lo, Si? Semenjak pake jilbab?" 

Jleb jleb jleb!!! Hahahaha and so I wrote this. As a reminder for myself, to always learn more.

----------------------------------------------------

What has changed?

Beneath the new colorful hijabs,
What has changed?

Beneath the ever growing hijab collections
What has changed?

Beneath your loose shirts and wide skirts
What has changed?

Have you grown more pious?
Did you recite more verse from the Quran?
Did you keep your prayers and do more of the sunnah?
Did you wake up on the peaceful third part of the night?
Are you kind to others?
Did you give more?
Did you live by the deen?
Did you take orphanage to live under your care?

Because what counts are more than just the long hijab

What counts are the times when you held your tongue tied instead of judging others

What counts are the times when you're being the guardian of the unseen

What counts are the times when you become the safest place for your children

What counts are the times when you become the remedy for your husband exhaustion

What counts are the times you hold yourself instead of throwing arguments to your mother

What counts are the times when you respect others

What counts are the times when you advice someone in private instead of judging in public

What counts are things that has changed within yourself, the ones coming back to Allah. The ones hardly seen physically.

So tell me, what has changed? Since your hijrah, what has truly changed?

And a year pass, I'm still figuring out.

Celoteh Adysa

Suatu sore saat saya pulang cepat:

Bunda: Alika, kalau bibi lagi masak, jangan deket-deket kompor ya. Berbahaya bisa kena api & terbakar. Boleh liat tapi dari jauh aja ya.
Alika: Iya, Bunda. Nanti badannya bisa kebakar ya?
Bunda: Kalau kecipratan & merambat, iya.
Adysa: Kaya Nabi Muhammad ya, Bunda? Kebakar?
Bunda: Huh??? Nabi Ibrahim?
Adysa: Oh iya Nabi Ibrahim ya bunda??

My sweet baby Adysa whenever I leave to work in the morning:

Adysa: Hati-hati ya Bunda. *sambil cium pipi Bunda*

And Adysa whenever Ayah is sick:

Adysa: Cepet sembuh ya Ayah... 

And whenever one of her friends in school are absent because they were sick:

Adysa: *sebelum tidur & sedang berdoa* Bunda, kita belum berdoa untuk Tessa, Abi, Bilva. Temenku di sekolah lagi sakit, Bunda.

I love you, Adysa. The world will be a better place if everyone is as sweet as you.

Celoteh Alika

Suatu malam sebelum tidur, setelah dibacakan buku Nabi Adam.

Alika: Bunda, kita semua sekarang di surga ya?
Bunda: Hmm? Gak kak, ini di bumi.
Alika: Tapi kan kita gak makan buah larangan (quldi) kaya Nabi Adam?
Bunda: πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Malam yang lainnya;

Sometimes Alika asks challenging questions before bed. Tonight were:
- Kalau meninggal itu gimana sih Bunda?
- Berbuat jahat itu gimana?
- Kalau berbakti itu gimana?
- Allah turun ke bumi gak sih, Bunda?
- Mengingat Allah bagaimana?
- Kalau polisi itu baik atau jahat?

πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Mau merem aja kok mikir yang berat-berat ya, Nak...

Menangkap Hidayah


Senin, 4 April 2016. Jeddah International Airport pukul 23.00.

Saat itu saya beserta rombongan umrah sedang menunggu pesawat untuk kembali ke Jakarta. Setelah melakukan ibadah umrah selama 9 hari penuh. Flight kami dijadwalkan take off pukul 00.30 malam. Saat itu kedua anak saya sedang tidur di kursi tunggu ditemani suami. Sementara saya baru kembali dari toilet.

Dalam perjalanan kembali ke kursi tunggu, saya "dicegat" oleh ustadz yang mengiringi perjalanan umrah kami selama 9 hari ini. 

"Mba Eksi kerja di perusahaan T**l ya? Sudah berapa lama?"

Begitu beliau membuka percakapan kami. Dilanjutkan dengan pertanyaan lain sampai akhirnya beliau sampai ke inti pertanyaan: 

"Sehari-hari kerja memang sudah pakai jilbab atau baru disini saja?"

Saya langsung nyengir "Baru disini saja, Pak Ustadz." Jawab saya.

Lalu beliau tersenyum "Nanti dilanjutkan ya di Jakarta."

Saya balas dengan tersenyum, lalu berkata "Sebenernya saya sudah lama pengen pake jilbab tapi maju mundur terus. Memang ada ayatnya ya yang benar-benar mengharuskan?"

Lalu beliau menceritakan tentang ayat suruhan berkerudung. Bahwa ayat suruhan tersebut sama kuatnya dengan menyuruh solat & puasa.

Saya bertanya lagi "Memang kalau pake jilbab itu gak menunggu hidayah ya Pak? Gak menunggu mimpi atau wangsit apa gitu?"

Pak Ustadz tertawa mendengarnya "Hidayah itu kan sudah turun berupa Al Quran dan Hadist. Termasuk ayat berjilbab tadi. Sekarang tergantung kita mau menangkap hidayah tersebut dan memasukkan lebih dalam ke diri kita atau tidak." 

Saya tertegun mendengar jawaban tersebut. "Jadi kalau umrah yang mabrur itu juga tergantung diri sendiri dong ya Pak?"

"Iya. Tergantung seberapa besar kamu berusaha merubah hidup kamu ke arah lebih baik, sepulangnya kamu dari sini".

Saya tidak menyangka bahwa penggalan percakapan tersebut senantiasa menguatkan hati saya untuk berjilbab. Keinginan itu sungguh sudah ada di hati saya lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi saya selalu ragu. Pantas gak ya saya berjilbab? Aneh gak ya wajah saya kalau berjilbab?

Nyatanya selama saya melakukan ibadah umrah dan berjilbab panjang selama 9 hari, saya menikmatinya dan tidak merasa ada yang aneh. Saya melihat berbagai macam model jilbab yang digunakan oleh perempuan-perempuan selama ibadah ini dan begitu besarnya ketakwaan mereka terhadap Allah SWT. Tanpa ada perasaan aneh atau janggal, dengan anggun-nya mereka mengenakan kerudung, jilbab bahkan cadarnya.

Beginilah penampilan saya sekarang. Baru permulaan. Masih amatir. Baru satu langkah dari sejuta langkah yang harus ditempuh untuk menangkap hidayah Allah SWT dan menerapkan suruhanNya. Semoga saya diberikan kesabaran dan istiqomah untuk selalu siap menangkap hidayahnya. Kapanpun dan dimanapun.

Amiin...

Kecewa-nya si Anak Balita

Baby Alive via amazon
Tadi malam sepulang kantor saya mampir dulu ke supermarket untuk belanja kebutuhan rumah, sengaja saya telpon ke rumah untuk cek kekurangan belanjaan yg masih harus dipenuhi. Ternyata yang angkat telpon di rumah adalah Alika. Jadi saya ngobrol dulu sama dia untuk menanyakan mau dibelikan apa.

Bunda : Hi Sayang, bunda lagi di supermarket. Kakak mau dibelikan apa?Mau jelly?
Alika : Bunda, aku mau baby yang bisa pupi.
Bunda : Iya itu kan nanti bulan depan kalau kakak ulang tahun. Bunda belum gajian, sayang.
Alika : Tapi aku mau baby-babyan, Bunda…
Bunda : Iya sayang, bulan depan ya pas Alika ulang tahun.
Alika : *nada mau menangis*….. Lalu telpon tiba-tiba ditutup. 

Saya kaget banget saat dia tutup telpon saya dalam keadaan marah dan dengan tidak menyenangkan dan tidak sopan. Bayangan kejadian bertahun-tahun ke depan langsung terjadi di benak saya, mungkin saat sudah besar dan dilarang hang out dengan teman, membeli sesuatu yang dia suka, ataupun masalah lainnya, dia akan menggunakan hal yang sama.

Padahal saya selalu berusaha tidak memenuhi keinginannya di kali pertama dia meminta suatu barang. Suatu kali ia meminta dibelikan sepeda anak-anak, saya juga tidak langsung memenuhinya. Saya memintanya untuk menunggu bulan depan atau moment tertentu, kebetulan saat ia meminta sepeda ada moment Adysa mau ulang tahun. Tapi bulan depannya ternyata ia sudah lupa dan tidak memintanya lagi.

Perihal menunda kesenangan ini memang coba saya tanamkan dari kecil, saya ingin dia belajar (1) Bersabar, bahwa tidak semua yang dia inginkan akan saya dan ayahnya wujudkan; (2) Think again, kadang anak-anak bisa napsu juga seperti orang dewasa napsu saat menginginkan barang tertentu. Saya ingin dia memikirkan kembali keinginanya, apakah ia betul menginginkan dan membutuhkan barang tersebut atau tidak. Dan satu hal lain yang ingin saya ajarkan tapi belum sempat diterapkan adalah konsep menabung kebaikan/reward system, bahwa apabila ia menginginkan sesuatu dia harus berusaha menuju kesana.

Opsi terakhir mengenai reward masih harus saya explore lebih lanjut, karena sekilas membaca tulisan Adhitya Mulya malahan system reward ini mungkin memberikan dampak negative pada anak.

Semalam sampai di rumah saya sampaikan bahwa cara dia marah atau kecewa itu tidak baik. Bahwa menutup telpon saat marah itu tidak baik. Lantas Alika menjelaskan bahwa tadi ia sedih, karena tidak dibelikan boneka. Lalu dia bertanya, “Bunda kalau boneka baby nya diskon jadi murah, Aku boleh minta beliin ya?” Hahahahahaha